Page Nav

HIDE
GRID_STYLE
FALSE
FADE

Left Sidebar

TO-RIGHT

Breaking News

latest
Ads

Akademisi Papua Katakan Ada Korelasi Antara Kebodohan dan Kejahatan Dibalik Bom Bunuh Diri Makassar

Abdy Busthan, S.Pd., M.Pd., M.Fil (Dosen Uswim Nabire) KOMPAS.PAPUA - Menanggapi aksi bom bunuh diri yang terjadi di pintu gerbang Gereja K...


Abdy Busthan, S.Pd., M.Pd., M.Fil (Dosen Uswim Nabire)

KOMPAS.PAPUA - Menanggapi aksi bom bunuh diri yang terjadi di pintu gerbang Gereja Katedral Makassar pada hari Minggu tanggal 28 Maret 2021, Abdy Busthan, S,Pd., M.Pd., M. Fil., seorang akademisi di Papua mengatakan bahwa terdapat korelasi antara Kebodohan dan sebuah tindakan Kejahatan.

"Inilah sebuah ironi kebodohan segelintir umat beragama di medan merdeka ini. Ya, ketololan yang melahirkan sebuah kejahatan," demikian tutur Busthan ketika ditemui awak media ini pada Rabu (31/03/2021).

Busthan mengatakan bahwa dalam hal ini kejahatan itu bisa datang dari orang-orang yang goblok dalam memaknai ajaran suatu agama, alias mereka yang dangkal berpikir.

"Artinya bahwa dalam konteks ini tidak diperlukan lagi 'kehendak jahat' untuk melakukan kejahatan. Tapi cukup dengan kebodohan alias kedangkalan berpikir saja mereka bisa melakukan kejahatan seperti halnya bom bunuh diri ini," terang Busthan.

Ditambahkan Busthan, selain kebodohan, hal lainnya lagi bahwa selama ini terdapat korelasi positif antara agama dan setiap aksi terorisme yang terjadi di negara Indonesia.

"Banyak kalangan dan Tokoh agama kerapkali menyangkal korelasi positif antara agama dan terorisme di negara ini. Padahal, justru teroris mengaku mendapat inspirasi membunuh dari agama. Inilah anomali religius di negeri ini," tutur Busthan

Dijelaskan Busthan bahwa ketika teroris menjadi mesin pembunuh yang sadistis, maka sistem moral mereka tidak berfungsi lagi. Hanya dengan kata "Kafir" mereka memandang kematian umat lain yang berbeda dengannya harus dilegalkan.

"Ya, bagi mereka ini adalah 'for a greater cause'. Mereka akhirnya memanfaatkan nyawa orang lain, bahkan nyawanya sendiri sebagai 'alat perjuangan' untuk sesuatu yang konon menurutnya sangat mulia. Nah, akhirnya kematian orang yang berbeda keyakinan dengannya adalah sebuah keniscayaan," imbuhnya

Menutup penjelasannya, Busthan mengatakan bahwa akibat formalisme agama yang dangkal, orang tidak lagi mampu berpikir mandiri. 

"Nalarnya cacat dan logikanya terselip di balik imannya yang buta. Dia tidak mampu membuat keputusan dengan nalar jernih dan sesuai dengan keadaan. Hasilnya adalah radikalisme agama seperti contohnya pada pelaku bom diri Makassar. Dan inilah suatu kebodohan," demikian tutup Abdy Busthan yang merupakan staf dosen di Universitas Satya Wiyata Mandala Nabire. (Red)

No comments