Page Nav

HIDE
GRID_STYLE
FALSE
FADE

Left Sidebar

TO-RIGHT

Breaking News

latest
Ads

Charles Darwin dan KIsah Masa Kecilnya Yang Terkenal Malas

Charles Robert Darwin, adalah seorang naturalis dan ahli geologi asal Inggris. Darwin terkenal dengan kontribusinya tentang ‘teori evolus...



Charles Robert Darwin, adalah seorang naturalis dan ahli geologi asal Inggris. Darwin terkenal dengan kontribusinya tentang ‘teori evolusi’. Darwin menetapkan bahwa semua spesies dari kehidupan telah diturunkan dari waktu ke waktu sejak nenek moyang kita. 

Dalam publikasinya bersama dengan Alfred Russel Wallace, Darwin memperkenalkan teori ilmiah bahwa pola percabangan evolusi dihasilkan dari sebuah proses yang dia sebutkan sebagai ‘seleksi alam’, dimana perjuangan untuk eksistensi, memiliki efek yang sama dengan seleksi buatan yang terlibat dalam pemuliaan selektif.

Darwin dikenang khalayak umum sebagai tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah peradaban manusia, ketika keunggulan teori evolusi yang digagasnya mendapat penghargaan, yang sekaligus dia dinobatkan sebagai ilmuwan berkelas dunia ketika berlangsung pemakamannya di daerah Westminster Abbey. Sebagaimana sebelumnya Darwin telah menerbitkan teori evolusinya dengan bukti-bukti kuat yang terdapat dalam bukunya berjudul On the Origin of Species, pada tahun 1859.

Pada tahun 1870-an, komunitas ilmiah dan banyak dari masyarakat umum menerima “teori evolusi” sebagai fakta yang benar. Namun pada perkembangan selanjutnya, banyak kalangan akademisi menentang teori tersebut hingga sulit untuk diakui lagi sampai munculnya sintesis evolusi modern, yaitu dari tahun 1930-an hingga tahun 1950-an. Saat itu, konsensus yang luas dikembangkan, dimana seleksi alam adalah mekanisme dasar evolusi. Sehingga dipahami bahwa dalam bentuk yang dimodifikasi, penemuan ilmiah Darwin adalah teori pemersatu antara ilmu kehidupan, dengan menjelaskan keanekaragaman kehidupan. 

Masa Kecil Darwin Terkenal Malas
Charles Robert Darwin, dilahirkan pada tanggal 12 Februari 1809, di Shrewsbury, Inggris, dan wafat pada tanggal 19 April 1882. Darwin dilahirkan pada rumah keluarganya, the Mount House. Darwin adalah anak ke 5 dari 6 bersaudara. Ayahnya bernama Robert Darwin adalah seorang dokter yang sangat kaya raya. Sementara ibunya bernama Susannah Wedgwood.

Kakeknya, Erasmus Darwin dari pihak ayah, dan Josiah Wedgwood dari pihak ibunya, kedua-duanya berasal dari keluarga Inggris yang paling terkemuka. Diketahui keluarga Darwin—Wedgwood—pendukung dari pembangunan Gereja Unitarian. Ibunya meninggal dunia ketika Darwin berusia 8 tahun. Ketika pada tahun berikutnya, ia bersekolah di Sekolah Shrewsbury yang tidak begitu jauh dari rumahnya, dan saat itu ia tinggal di asrama dari sekolah itu.

Semasa kecilnya. Darwin adalah seorang anak yang penurut, ramah dan suka melamun. Namun setelah kematian ibunya, kelakuan Darwin berubah sangat drastis. Ia menjadi anak yang sangat pemalas. Ia sering menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan sendirian menyusuri tanah pedesaan. Meski demikian, boleh dibilang masa kecil Darwin memang cukup senang dan bahagia karena ia mempunyai banyak kakak yang bisa mengasuhnya. Terlebih lagi, ia berasal dari keluarga yang cukup terpandang dan kaya raya. Dimana dengan kekayaan orang tuanya ini, Darwin lalu menikmati kenyamanan dan mempunyai akses mengenyam fasilitas-fasilitas pendidikan yang bagus.

Akibatnya, Darwin terkenal sebagai anak yang sangat malas ke sekolah akibat sifat cepat bosannya pada berbagai hal. Melihat kemalasan Darwin ini, ayahnya selalu kuatir akan masa depan si Darwin. Ayahnya kuatir karena dilihatnya Darwin selalu malas ke sekolah dan hanya bersenang-senang dengan kegiatan berburu, main-main dengan anjing dan menangkap tikus. Ayahnya cemas jika nantinya Darwin akan membawa malu keluarga.

Di samping itu, Darwin juga berprestasi amat buruk di sekolah, dan tidak suka belajar. Ketika Darwin masih di bangku sekolah, ayahnya pernah marah dan mengatakan, bahwa Darwin hanya memalukan keluarga saja. Karena dia suka menunggang kuda, menembak, dan mengumpulkan serangga atau binatang. Padahal sebenarnya, dengan hobi inilah yang membuat Darwin nantinya bisa menjadi Ilmuwan besar di dunia internasional.

Banyak juga orang menyangka bahwa Darwin berasal dari keluarga orang yang kurang taat beragama, sehingga sudah punya bakat untuk menjadi anak nakal dan super cuek dengan keadaan sekelilingnya. Darwin memang malas dan acuh tak acuh dengan keadaan sekitarnya.Tetapi pada awalnya, Darwin adalah orang yang taat beragama seperti juga sebagian besar orang pada zamannya.

Darwin pernah belajar di Universitas Cambridge untuk menjadi pendeta Anglikan. Darwin dikirim ayahnya ke sana setelah sebelumnya gagal di sekolah kedokteran Universitas Edinburgh, karena waktu itu Darwin merasa ngeri dan tak tahan melihat praktek operasi yang mana pada masa itu masih belum menggunakan obat bius. Obat bius dengan menggunakan ether baru diperkenalkan oleh William Morton tahun 1846. 

Jadi, praktek operasi pada masa itu memang cukup sadis, boleh dikatakan si pasien “dibongkar” hidup-hidup. Mereka hanya diberikan minuman beralkohol atau semacamnya. Untuk mencegahnya meronta-ronta, kaki dan tangannya dipegang erat-erat oleh beberapa orang asisten dokter bedah yang bertubuh kekar. Bila pasien tersebut ternyata masih rewel juga, maka ia terpaksa harus “di bius” dengan beberapa bogem mentah di kepalanya. Karena adanya adegan sadistis semacam itulah, Darwin pun akhirnya batal menjadi dokter sebagaimana yang diharapkan oleh ayahnya.


Perjalanan Menuju Kesuksesan
Pada tahun 1827, ayah Darwin yang tidak suka melihat Darwin tidak menjadi dokter, diam-diam mendaftarkannya pada sebuah program Bachelor of Arts di Christ's College, di Universitas Cambridge, untuk menyiapkannya menjadi seorang pendeta. Ini adalah sebuah pilihan yang masuk akal, karena pada saat itu para pendeta Anglikan memperoleh penghasilan yang lumayan besar, dan kebanyakan dari kaum naturalis di Inggris saat itu adalah pendeta yang menganggap bagian dari tugas mereka adalah "menjelajahi keajaiban-keajaiban ciptaan Tuhan".

Ketika berada di Cambridge, Darwin kembali terlihat pemalas. Darwin lebih suka menunggang kuda dan pergi menembak daripada belajar. Bersama dengan sepupunya bernama William Darwin Fox, Darwin pun sibuk dengan kegemaran saat itu, yaitu berlomba mengumpulkan kumbang. Fox pun memperkenalkannya kepada Pendeta John Stevens Henslow, Profesor botani, untuk mendapatkan nasihat ahli tentang kumbang. Kemudian Darwin ikut dalam kelas sejarah alam dari Henslow, dan menjadi murid kesayangannya.

Ketika ujian tiba, Darwin memusatkan perhatiannya pada studinya dan mendapatkan kelas tambahan khusus dari Henslow dalam dua mata pelajaran, matematika dan teologi. Darwin khususnya tertarik akan tulisan-tulisan William Paley, termasuk argumen tentang rancangan Ilahi dalam alam. Dalam ujian-ujian akhirnya pada bulan Januari tahun 1831, ia berhasil dengan baik dalam teologi dan karena ia belajar keras dalam studi klasik, matematika dan fisika, ia muncul pada peringkat 10 dari 178 mahasiswa yang lulus.

Tuntutan residensi yang mewajibkan Darwin tinggal di Cambridge hingga bulan Juni. Mengikuti teladan dan nasihat Henslow, ia pun tidak tergesa-gesa untuk menjadi pendeta. Ia lalu diilhami oleh tulisan Alexander von Humboldt, Personal Narrative, dan ia berencana mengunjungi Kepulauan Madeira untuk mempelajari sejarah alam di daerah tropik dengan sejumlah teman sekelasnya setelah lulus.

Untuk mempersiapkan diri, Darwin mengambil kelas geologi dari Pendeta Adam Sedgwick, seorang penganjur kuat rancangan ilahi, dan pada musim panas pergi bersamanya untuk membantu dalam memetakan lapisan (strata) di Wales. Darwin sedang melakukan penelitian stratanya sendiri ketika rencananya untuk pergi ke Madeira dibatalkan oleh pesan bahwa rekan yang akan pergi bersamanya telah meninggal dunia, namun ketika ia pulang ke rumah ia menerima surat yang lain. Henslow telah memberikan rekomendasi untuk Darwin pada posisi yang tidak dibayar untuk menjadi pendamping bagi Robert FitzRoy, kapten HMS Beagle, dalam sebuah ekspedisi selama dua tahun untuk menjelajahi garis pantai Amerika Selatan, seperti yang sudah disampaikan pada bagian sebelumnya.

Darwin merasa bahwa ini adalah kesempatan berharga untuk mengembangkan kariernya sebagai seorang naturalis. Namun, ayahnya ternyata menentang perjalanan itu, ayahnya menganggapnya sebagai pemborosan waktu, tetapi akhirnya ayah Darwin terbujuk oleh Josiah Wedgwood II hingga menyetujui partisipasi anaknya.

Perjalanan tersebut berlangsung dalam ekspedisi 5 tahun, yang akhirnya menyebabkan perubahan-perubahan dramatis dalam diri Darwin. Pengamatan serta penelitian yang dilakukan selama dalam ekspedisi berlangsung hingga tahun 1836 itu pada akhirnya mengubah pendiriannya sama sekali tentang Tuhan, dan keyakinan yang dianutnya serta menimbulkan revolusi di masyarakat luas tentang masalah keyakinan. Keyakinan Darwin pada agama yang dianutnya akhirnya menjadi hilang tak berbekas. Dari seorang yang taat beragama, Darwin beralih menjadi seorang agnotis, yaitu paham yang selanjutnya tidak pernah ia lepaskan lagi hingga akhir hayatnya.

Dalam sebuah otobiografi yang ditulisnya, yang boleh diterbitkan setelah dia meninggal, Darwin menyatakan... “Dengan sangat perlahan hilangnya keimanan merayap dalam sanubari saya, namun akhirnya keimanan saya hilang sama sekali. Proses tersebut berlangsung tanpa terasa sehingga saya tidak pernah merasa kehilangan, dan sejak saat itu saya tidak pernah meragukan, sedetik pun tidak, bahwa kesimpulan saya benar”.

Teori evolusi yang dicetuskan oleh Darwin memang pada akhirnya menimbulkan kontroversi dan kegemparan luar biasa di dunia Barat seabad yang lalu. Teori tersebut bertentangan sama sekali dengan kisah penciptaan manusia dan alam semesta yang dianut oleh masyarakat pada saat itu.

Teori evolusi yang kontroversial itu diuraikan oleh Darwin dalam On the Origin of Species by Means of Natural Selection pada tahun 1859, disusul kemudian dengan The Descent of Man and Selection in Relation to Sex, yang terdiri dari dua jilid pada tahun 1871.

Buku-buku itu disusun dengan sangat cermat dan teliti, berdasarkan pengamatan dan penelitian yang dilakukan Darwin sendiri maupun dari hasil penelitian para sejawatnya, antara lain adalah Alfred Russel Wallace (1823-1913) yang juga pernah mengadakan penelitian di kepulauan Nusantara sekitar satu setengah abad silam.

Dalam jangka 12 tahun sejak terbitnya The Origin of Species, para ilmuwan dunia hampir semuanya telah sepakat mendukung teori evolusi, sedangkan para agamawan dengan keras tetap menentangnya. Darwin berpendapat, manusia berasal dari mahluk-mahluk yang lebih rendah derajatnya dari manusia, lalu berevolusi sampai ke bentuknya seperti sekarang, sedangkan para agamawan berkeyakinan bahwa Adam adalah manusia pertama yang langsung diciptakan Tuhan dalam bentuknya seperti sekarang ini, dan tentu saja tidak melalui proses evolusi. Mereka juga meyakini bahwa manusia, bumi, alam semesta dan seluruh isinya ini, baru diciptakan pada tahun 4004 SM, sesuai perhitungan yang dilakukan Uskup Ussher tahun 1779, dengan berdasarkan silsilah (genealogi) yang terdapat pada Bible.

Pertentangan mengenai masalah ini masih tetap terjadi dengan sengit hingga puluhan tahun lamanya, yaitu sejak terbitnya “The Origin of Species”, yang dikarenakan masih terlalu banyak orang yang enggan menerima teori evolusi. Termasuk juga kalangan Universitas di Inggris.

Akhirnya, Charles Darwin meninggal dunia pada tahun 1882, yang kemudian dimakamkan di Westminster Abbey, yaitu tempat yang sama dimana sang ilmuwan Inggris yang lainnya, Isaac Newton juga dimakamkan di situ. Pada saat upacara pemakamannya, dialunkan lagu yang khusus digubah untuk acara tersebut, yang liriknya diambil dari sebuah peribahasa Inggris yang berbunyi...

“Berbahagialah orang yang menemukan kebijaksanaan dan diberkahi pengertian. Kedua nilai itu jauh lebih berharga daripada permata merah delima dan benda-benda lain yang pernah diinginkan oleh manusia.”

Hal positif yang dapat dipelajari dari kisah Darwin adalah, bahwa akibat ketekunan dan keseriusannya dalam mendalami dan mempelajari berbagai hal-hal baru, maka Darwin semasa hidupnya, dapat menemukan hal-hal baru tersebut dan banyak sekali rahasia alam yang terungkap akibat ketekunan Darwin ini, yang tentunya dapat kita nikmati hasilnya sampai detik ini. Ilmu pengetahuan menjadi semakin berkembang berkat hal-hal yang dilakukan Darwin.

Karena itu, sebaiknya jangan pernah menganggap remeh hal-hal kecil yang dilakukan anak-anak, karena bisa saja di kemudian hari, hal-hal kecil itulah yang membawanya menjadi orang besar dan paling berpengaruh.

Rujukan Buku:
Busthan Abdy (2018). Pendidikan Berbasis Goblok (hal.79-87). Kupang: Desna Life Ministry 

No comments