Page Nav

HIDE
GRID_STYLE
FALSE
FADE

Left Sidebar

TO-RIGHT

Breaking News

latest
Ads

Antagonistis Goblok: Meretas Filosofi Goblok dan Pintar

Tidak ada orang pintar menjadi pintar. Sebab hal ini sangat antagonistis dengan hakikat dari kepintaran itu sendiri. Ibarat jeruk menjadi...



Tidak ada orang pintar menjadi pintar. Sebab hal ini sangat antagonistis dengan hakikat dari kepintaran itu sendiri. Ibarat jeruk menjadi jeruk. Jeruk tidak bisa menjadi jeruk sebab ia jeruk. Mungkinkah Budi menjadi Iwan? Tidak! Budi hanya bisa merubah dirinya (ber-eksistensi) untuk menjadi seperti (mirip) Iwan. Sebab esensi diri yang melekat padanya adalah tetap Budi. Sekali lagi, esensi mendahului eksistensi. 

Ketika goblok menjadi pintar, akan terlihat jelas perubahan di situ. Dan akan nampak pula pertumbuhan dan perkembangan nilai-nilai pendidikan di situ. Dengan kata lain, telah terjadi didikan dari sesuatu yang tidak diketahui kepada sesuatu yang sudah diketahui.

Filosofi goblok dan pintar itu ibarat perumpamaan gandum dan ilalang (lihat Kitab Matius 13:24-30). Ilalang dan gandum, mereka akan tumbuh bersama-sama dalam setiap musim. Ketika keduanya tumbuh bersama-sama, mungkin sepintas orang akan sulit membedakan yang mana gandum, dan yang mana ilalang. Artinya bahwa gandum tidak mungkin menjadi ilalang, sementara ilalang bisa menjadi gandum. Sehingga pada akhirnya, ilalang-ilalang itu akan dikumpulkan oleh tuannya, lalu dimasukkan ke dalam sekam untuk dibakar. 

Begitupun goblok dan pintar. Orang pintar tidak akan mungkin menjadi ilalang. Sementara orang goblok bisa menjadi gandum. Artinya bahwa, goblok bisa menjadi pintar, sementara pintar tetap saja ia menjadi pintar—jika kemudian hari ia menjadi goblok, setelah pernah terlihat pintar, itu artinya pada awalnya memang dia tetap goblok. Karena orang yang terlihat pernah pintar, dan tiba-tiba saja terlihat menjadi goblok, sebenarnya orang itu adalah orang goblok lama, alias memang goblok bin tolol.

Banyak orang kerapkali tampil dengan membangga-banggakan kemampuan intelektualnya yang cemerlang dan berada di atas rata-rata dibandingkan orang lain. Namun sudahkah dengan segala kecemerlangan intelektual yang dimilikinya itu, dia menjadi mampu berlaku adil terhadap dirinya sendiri dan terhadap sesamanya? Ataukah ia justru terperangkap dalam pelacuran intelektual yang membuatnya berada satu tingkat dibawah binatang? Ya, kecemerlangan intelektual yang tanpa dilandasi dengan perangai hati yang baik, maka akan menggiring seseorang pada hakikat terdalam dari sifat kebinatangan yang sempurna, yang membuatnya membinatangkan diri secara sempurna melalui perasaan, perbuatan, dan pikiran.

Orang goblok dan orang pintar tidak bisa terukur dari seseorang yang telah memiliki pencapaian intelektual tinggi atau tidak. Bukan pula terukur dari banyaknya pencapaian perbuatan baik yang sudah pernah dilakukan ataupun yang tidak dilakukan seseorang. Tetapi kepintaran dan kebodohan hanya bisa terlihat dan terukur jika seseorang itu bisa atau tidak bisa ia bersikap bijaksana dalam menyikapi segala sesuatunya melalui kemurnian ‘hati’ yang terdalam. 

Dua Jenis Goblok
Menurut Busthan Abdy (2018:162), terdapat dua jenis orang goblok, yaitu (1) Goblok yang jujur dan (2) Goblok yang tidak jujur. 

Goblok yang jujur
Goblok yang jujur adalah cermin sebuah kejujuran yang selalu tampil dengan ‘apa adanya’ (ketulusan). Goblok jenis ini sesungguhnya merupakan sebuah kondisi yang sifatnya sementara. Sebab orang yang menyadari dengan jujur bahwa dalam dirinya terdapat kekurangan, maka niscaya ia akan belajar untuk belajar menjadi lebih baik.

Ketika orang goblok yang jujur mulai belajar, maka secara langsung ataupun tidak langsung, dia akan merubah keadaan dirinya dari kondisi ketiadaan akan pengetahuan, menuju kepada kondisi pengadaan akan adanya pengetahuan (berubah). Sehingga akan terlihat jelas bahwa, telah terjadi perubahan di situ: dalam dirinya.

Sejatinya, dalam petualangan kehidupannya didunia ini, pendidikan bagi orang goblok yang jujur, hakikatnya adalah berlangsung seumur hidupnya. Ia akan terus mengalir seperti aliran air yang terus mengalir tanpa henti, tanpa ujung, bahkan tanpa titik. 

Goblok yang tidak jujur
Goblok yang tidak jujur adalah cermin kejujuran yang ‘ada apanya’ (kemunafikan/penipuan). Goblok jenis ini sesungguhnya sebuah kondisi yang sifatnya merusak. Sebab orang yang menyadari dengan jujur bahwa dalam dirinya terdapat kekurangan, tetapi dia justru bertingkah seperti orang yang mengetahui segalanya, maka niscaya ia akan belajar untuk belajar menjadikan segala sesuatunya menjadi rusak berantakan—tidak saja merusak orang lain, tetapi juga menghancurkan dirinya sendiri.

Ketika orang goblok yang tidak jujur belajar, ia tidak akan merubah keadaan dirinya—sebab kondisi ketiadaan pengetahuan akan tetap dimilikinya. Orang jenis ini justru akan melakukan kondisi “sok tahu”, yang tanpa dia sadari akan dapat menghancurkan nilai-nilai kehidupan bersama melalui sikap goblok yang tidak jujur ini. Dalam petualangan kehidupan di dunia ini, pendidikan bagi orang goblok yang tidak jujur, hakikatnya berlangsung pada realitas “destroying with perfectly”, yaitu penghancuran yang sangat sempurna
.

Rujukan Buku:
Busthan Abdy (2018). Pendidikan Berbasis Goblok (hal.79-87). Kupang: Desna Life Ministry 

No comments