Page Nav

HIDE
GRID_STYLE
FALSE
FADE

Left Sidebar

TO-RIGHT

Breaking News

latest
Ads

Matinya Sang Kematian, Sebuah Renungan Singkat (Oleh. Pdt. Dr. A.A Yewangoe)

Apakah yang terlintas dalam pikiran kita apabila seseorang yang kita kenal, kita akrabi pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya? Tentu ...



Apakah yang terlintas dalam pikiran kita apabila seseorang yang kita kenal, kita akrabi pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya? Tentu sedih karena ia pernah ada dan sekarang tidak ada lagi secara fisik. Kita tidak akan pernah bertemu lagi dengannya. Perjumpaan antara "yang hidup" dengan "yang hidup" menjadi sesuatu yang mustahil.

Dokter Alkmaion dari Kroton (abad ke-5 sebelum Masehi) mengatakan: "Tubuh manusia harus binasa sebab "titik awal"-dalam kehidupan- tidak bertindih-tepat dengan "titik akhir". Atau dalam bahasa Belandanya yang saya kutip: "De mensen vergaan, omdat zij het begin niet met het einde kunnen samenbrengen".

Kalau saja bisa (yaitu bertindih-tepatnya titik-awal dan titik-akhir), maka keberadaan dan/atau eksistensi manusia akan terus-menerus kembali ke titik-awal secara abadi untuk terus ke titik-akhir dan kembali lagi ke titik-awal, dan seterusnya.

Dalam hal ini kita teringat misalnya akan peredaran matahari atau musim yang terus-menerus bergerak dari titik-awal ke titik-akhir untuk kembali lagi ke titik-awal. Abadi. Kekal. Dalam berbagai mitologi kita juga mendengar dewa-dewa hidup, kemudian mati, lalu hidup lagi, dan seterusnya.

Ternyata manusia tidak mengalami "mekanisme" seperti itu. Goethe, Penyair Jerman terkenal dalam salah satu penggalan puisinya menyairkan: "Stirb und Werde. Bist du nur eine trueber Gast auf der dunklen Erde." [Mati dan jadilah. Adakah anda sekadar tamu yang muram di atas bumi yang gelap].

Tetapi benarkah kita/manusia adalah sekadar tamu yang muram di atas bumi yang gelap? Adakah kehidupan tidak punya nilai? Adakah kematian benar-benar adalah kebinasaan, suatu absurditas mutlak?
Martin Heidegger, filsof eksistensialis mengatakan: "Kematian adalah horizon/kaki langit dari kehidupan."

Kalau kita tahu bahwa suatu perjalanan ada horizonnya, maka kita sadar bahwa tidak ada sesuatu yang tanpa akhir. Begitu juga dengan kehidupan. Atas dasar kasadaran itu kita memberi isi atau nilai terhadap kehidupan ini.

Sebuah nyanyian yang populer di Indonesia akhir-akhir ini berjudul: "Hidup adalah kesempatan." Maka kita yakin mereka yang meninggalkan kita itu telah menerakan nilai terhadap kehidupannya. Kematian memang sesuatu yang real tetapi tidak membawa kita kepada yang pesimistis.

Sebagai orang beriman kita yakin bahwa kematian telah dikalahkan oleh Yesus Kristus. "Hai maut di manakah sengatmu?" Itulah saatnya ketika kematian mengalami kematian. Matinya Sang Kematian. Oleh kematian-Nya dan kebangkitan-Nya, kematian dimatikan!

Kita selalu mendengar adagium yang sangat lazim ini: "Di tengah-tengah kehidupan kita dilingkupi oleh kematian." Martin Luther, Sang Reformator membalikkan adagium tersebut: "Di tengah-tengah kematian kita dikelilingi oleh Kehidupan." Itulah yang menghiburkan. Itulah yang menguatkan.

Oleh. Pdt. Dr. A.A Yewangoe
Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila

No comments