Page Nav

HIDE
GRID_STYLE
FALSE
FADE

Left Sidebar

TO-RIGHT

Breaking News

latest
Ads

Kisah Masa Kecil Sang Jenius Yahudi Albert Einstein Yang Selalu Melanggar Aturan

Albert Einstein adalah simbol kejeniusan abadi. Ia merupakan maskot dari orang-orang jenius. Bahkan sepanjang peradaban, tidak ada kejeniu...



Albert Einstein adalah simbol kejeniusan abadi. Ia merupakan maskot dari orang-orang jenius. Bahkan sepanjang peradaban, tidak ada kejeniusan yang unik, yang bisa menandingi apa yang dimiliki Einstein. Hal ini terbukti ketika pada akhir abad ke-20, majalah Time memilih Albert Einstein sebagai “Man of The Century”. Ya, dia adalah ilmuan berdarah Yahudi yang selalu terkenang sepanjang masa, karena kepintarannya.

Dia merupakan ilmuwan fisika teoretis yang terbesar di abad ke-20, hingga detik ini. Dialah sang penemu teori relativitas, dan banyak menyumbangkan ide dan gagasan serta pemikirannya untuk pengembangan bidang mekanika kuantum, mekanika statistika, serta bidang kosmologi dan lain sebagainya.

Dalam karirnya sebagai ilmuan berkelas dunia internasional, Einstein juga pernah meraih penghargaan “Nobel” dalam bidang Fisika, yaitu pada tahun 1921, yang disertai dengan penjelasannya yang sangat brilian tentang efek dari fotolistrik serta kajian kecepatan cahayanya. Dan setelah mendeklarasikan konsep-konsep teori relativitasnya, Einstein kemudian terkenal ke seluruh penjuru dunia hingga detik ini. Sebuah pencapaian ketenaran yang sangat dasyat dan tak tertandingi, bahkan tidak didapatkan para ilmuwan manapun. Bahkan pada masa tuanya, ketenaran Einstein melampaui ketenaran semua ilmuwan dalam sejarah, dan dalam budaya populer.

Sehingga akhirnya, kata ‘Einstein’ dianggap bersinonim dengan kecerdasan atau kejeniusan. Wajahnya merupakan salah satu “maskot” atau lambang kepintaran dan kecerdasan yang paling dikenal di dunia. Untuk menghargai kejeniusan Einstein ini, maka sebuah satuan dalam fotokimia dinamai einstein, dan sebuah unsur kimia dinamai einsteinium, bahkan sebuah asteroid dinamai pula 2001 Einstein. Rumus Einstein yang paling terkenal adalah E=mc².

Masa Kecil Einstein: Pelanggar Aturan yang Idiot
Albert Einstein dilahirkan di Ulm, Kerajaan Württemberg, yaitu Kerajaan Jerman, pada tanggal 14 Maret 1879, dan ia meninggal di Princeton, New Jersey, Amerika Serikat, pada tanggal 18 April 1955 di usianya yag ke-76 tahun.

Ketika menjadi ilmuwan terkenal dan menemukan teori relativitasnya, Einstein pernah berkata.. “Intelektual saya terlambat, sehingga saya baru mulai bertanya-tanya soal ruang dan waktu setelah saya dewasa” (Thorpe Scott, dalam Busthan Abdy 2018:52)

Masa kecil Einstein dianggap idiot, bahkan sering sekali melanggar aturan-aturan. Seperti apa yang pernah dikatakan Einstein bahwa..“Berbagai macam masalah berat dapat dipecahkan berkat satu prinsip universal yang merupakan inti dari belajar berpikir jenius adalah bahwa, Anda harus melanggar segala macam aturan” (Busthan Abdy, ibid).

Einstein adalah salah satu pelanggar aturan di dunia yang paling alami dan natural. Dia adalah “James Dean”nya ilmu pengetahuan. Bukan saja hanya hukum-hukum fisika yang ditantangnya. Ia juga kesampingkan tradisi begitu saja, dan ia membuat pemerintah-pemerintah mengamuk.

Karena selalu melanggar aturan, maka Einstein banyak mendapatkan kesulitan. Tetapi dengan kenekatannya untuk melanggar setiap aturan inilah, inti dari kejeniusannya. Sehingga Einstein menjadi seorang pemecah masalah yang paling hebat, karena ia seorang pelanggar aturan yang hebat (Thorpe Scott, 2002).

Satu tahun setelah Einstein dilahirkan, kedua orang tua Einstein memutuskan untuk pindah dari kota Ulm ke Munich, Jerman. Pada usianya ke-5 tahun, Einstein sempat mendapat pelajaran privat dari salah seorang tutor. Namun ini tidak berlangsung lama, karena Einstein telah dilemparkan kursi oleh gurunya sebab ia memiliki temperamen yang buruk. Pada tahun yang sama ia juga mulai belajar biola.

Pada tahun 1885, ketika Einstein berusia 6 tahun, ia masuk pada "Petersschule", sebuah Sekolah Dasar Katolik di Munich, Jerman. Pada bulan Oktober tahun 1888 ia pindah ke sekolah tata bahasa Luitpold, karena Einstein tidak mampu mengatasi sikap otoriter sekolah dan saat itu Einstein juga memiliki masalah dengan beberapa guru, yang akhirnya ia meninggalkan sekolah tata bahasa itu di bulan Desember tahun 1894. Bahkan guru kelasnya juga pernah mengancam Einstein dengan berkata kepadanya.."never will he get anywhere”!.

Pada usia ke-7 hingga 9 tahun, Einstein masuk sekolah lagi, yaitu di Luitpold-Gymnasium. Pada usia 12 tahun ia juga belajar tentang kalkulus, dan ini adalah sesuatu yang cukup luar biasa, karena pada umumnya, anak-anak di Jerman mulai belajar kalkulus pada usia 15 tahun.

Einstein sangat meminati bidang eksakta terutama Fisika dan Matematika, sehingga ia selalu mendapatkan nilai bagus pada setiap kali ke-dua mata pelajaran ini diujiankan.

Berhubung pada saat itu sistem pendidikan abad ke-19 di Jerman sangat keras dan ketat, Einstein bahkan hampir tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengembangkan bakat-bakatnya yang lain dalam bidang non-eksakta (seperti sejarah, bahasa, musik, geografi dll)

Selanjutnya siapa yang bisa menyangka, jika awalnya Albert Einstein adalah seorang anak yang pernah dianggap goblok disekolahnya? Ya, pada masa kecil, Einstein memang sulit untuk berbicara, karena ia menderita autisme. Sehingga Einstein sangat terkenal sebagai siswa yang sangat lalai dalam setiap pelajaran disekolah. Akibatnya, Einstein sama sekali dianggap anak yang paling bodoh dan idiot.

Sehari-harinya, Einstein dianggap sebagai pelajar yang lambat dan lamban, yang kemungkinan ini disebabkan oleh dyslexia yang dideritanya. Sehingga ia memiliki sifat pemalu. Bahkan diketahui selanjutnya bahwa, ia memiliki struktur yang jarang dan tidak biasanya didapatkan pada umumnya jaringan-jaringan otak yang terdapat pada manusia normal (diteliti setelah kematiannya).

Klaim bodoh yang sering dialamatkan pada Einstein, sering digunakan sebagai alasan bagi anak-anak untuk tidak perlu belajar di sekolah. Bahkan pada setiap tulisan yang memuat daftar orang-orang bodoh yang berakhir sukses, hampir dipastikan bahwa nama Einstein pasti termasuk di dalamnya. Tidak ketinggalan pula penceramah dan motivator yang sering dalam seminar-seminar motivasi dan pendidikan, juga menyatakan bahwa Einstein dulunya adalah seorang siswa yang bodoh dan paling terkebelakang.

Banyak kalangan akademisi mengklaim bahwa, bukti dari kebodohan Einstein terbukti nyata ketika ia gagal dalam ujian masuk di Swiss Federal Polytechnic, yang sebenarnya bukanlah sesuatu yang luar biasa. Tetapi yang paling utama, munculnya mitos ini disebabkan pula oleh perbedaan sistem penilaian (grading) yang saat itu banyak berlaku di sekolah pada negara Jerman dan Swiss.

Pada ke-dua negara tersebut, nilai siswa di ukur dari angka 1 sampai 6, tetapi dengan urutan yang terbalik. Dimana negara Jerman, nilai 1 merupakan nilai tertinggi (excellent) dan nilai 6 adalah nilai terendah. Sementara di negara Swiss sebaliknya, nilai 1 adalah nilai terendah, dan nilai 6 adalah paling tinggi. Setelah gagal dalam ujiannya, atas saran dari pimpinan Federal Polytechnic, Einstein kemudian melanjutkan sekolah di Aargau Cantonal School di Aarau, Swiss. Namun ia kembali menemukan kegagalan lagi. Diketahui bahwa dalam “Matura” (daftar nilai ujian akhir) Einstein yang dikeluarkan Aargau Cantonal School, menunjukkan bahwa Einstein memang sekali banyak mendapatkan nilai sekitar angka 5 dan 6. Jika dilihat dengan standar nilai yang dipakai di Jerman, tidak heran jika ia dianggap bodoh dan gagal, karena di Jerman, nilai 6 adalah nilai yang paling rendah. Tetapi di tahun berikutnya, Einstein mencoba lagi mengikuti ujian masuk di Federal Polytechnic School, dan akhirnya ia berhasil.

Perjalanan Menuju Kesuksesan
Pada masa-masa selanjutnya, kedua paman Einstein sering membantu Einstein untuk mengembangkan ketertarikannya terhadap dunia intelek pada masa akhir kanak-kanaknya dan awal remaja, yaitu dengan memberikan usulan dan buku-buku tentang sains dan matematika.

Pada sekitar tahun 1894, dikarenakan kegagalan bisnis elektrokimia dari ayahnya, Einstein akhirnya pindah dari München ke Pavia, Italia (dekat kota Milan). Einstein tetap tinggal menyelesaikan sekolah, menyelesaikan satu semester sebelum bergabung kembali dengan keluarganya di Pavia.

Kegagalan Einstein dalam seni liberal, ditandai ketika ia mengikuti tes masuk di Eidgenössische Technische Hochschule (Institut Teknologi Swiss Federal), di Zurich. Pengalaman ini merupakan langkah mundur yang dijadikannya sebagai suatu pelajaran untuk melangkah ke depannya lebih baik lagi. Oleh keluarganya, Einstein akhirnya dikirim ke Aarau, Swiss, untuk ia dapat menyelesaikan sekolah menengahnya, dan akhirnya Einstein menerima gelar Diploma pada tahun 1896. Tahun-tahun berikutnya Einstein pun melepaskan kewarganegaraan Württembergnya dan akhirnya dia tidak memiliki status warga negara manapun.

Pada tahun 1898, Einstein jatuh cinta dengan seorang wanita bernama Mileva Marić, yang berasal dari Serbia dan merupakan teman kelasnya sendiri. Karena sering bersama, maka akhirnya Einstein dan Mileva memiliki seorang putri bernama Lieserl, yang lahir bulan Januari, tahun 1902. Lieserl Einstein, pada waktu itu, dianggap tidak legal karena orang tuanya tidak menikah.

Memasuki tahun 1900, Einstein diberikan kepercayaan untuk mengajar oleh Eidgenössische Technische Hochschule dan diterima sebagai warga negara Swiss pada tahun 1901. Selama masa ini, Einstein justru kerapkali mendiskusikan ketertarikannya terhadap sains dengan beberapa teman-teman dekatnya, termasuk dengan Mileva kekasihnya.

Einstein selanjutnya mendapatkan gelar Doktor setelah menyerahkan thesisnya berjudul "Eine neue Bestimmung der Moleküldimensionen" ("On a new determination of molecular dimensions") yaitu pada tahun 1905 di Universitas Zürich. Pada tahun yang sama, dia juga sempat menulis empat artikel yang memberikan dasar fisika modern, tanpa banyak sastra sains yang dapat ia tunjukkan atau tidak banyak melibatkan kolega dalam sains yang dapat ia diskusikan tentang teorinya.

Banyak fisikawan setuju bahwa ketiga thesis Einstein (tentang gerak brownian), yaitu tentang efek fotolistrik, dan hukum relativitas khusus, memang pantas mendapatkan penghargaan Nobel. Tetapi justru akhirnya hanya thesis efek fotoelektrik yang mendapatkan penghargaan saja. Ini adalah sebuah ironi, bukan saja karena Einstein lebih tahu banyak tentang relativitas, tetapi juga karena efek fotoelektrik yang digagasnya adalah sebuah fenomena kuantum yang dengan leluasa Einstein membuka jalan lebar dalam memahami teori kuantum.

Hal yang membuat thesisnya luar biasa adalah, bahwa dalam setiap kasus, Einstein dengan yakin mengambil ide dari teori fisika ke konsekuensi logis dan akhirya dia berhasil menjelaskan hasil eksperimen yang banyak membuat para ilmuwan berpikir selama beberapa dekade.

Selanjutnya, untuk menghargai dan menghormati karya dan kehebatan Einstein, maka Persatuan Fisika Murni dan Aplikasi (IUPAP) pernah membuat perayaan berkelas dunia, demi merayakan 100 tahun publikasi pekerjaan Einstein pada tahun 1905 di Tahun Fisika 2005.

Dalam artikel pertamanya tahun 1905 yang berjudul "On the Motion—Required by the Molecular Kinetic Theory of Heat—of Small Particles Suspended in a Stationary Liquid", mencakup penelitiannya tentang gerakan brownian, uniknya, pada saat itu Einstein menggunakan teori kinetik cairan yang saat itu justru menjadi sesuatu yang sangat kontroversial.

Einstein menetapkan bahwa fenomena yang masih kurang penjelasan memuaskan setelah beberapa dekade, ternyata dapat pula memberikan bukti empirik (atas dasar pengamatan dan eksperimen) kenyataan pada atom, dan juga meminjamkan keyakinan pada mekanika statistika, yang pada saat itu juga sangat kontroversial. Sebelum thesis ini, atom dikenal sebagai konsep yang berguna, tetapi fisikawan dan kimiawan berdebat dengan sengit apakah atom itu benar-benar suatu benda yang nyata, yang akhirnya muncullah sang jenius Einstein untuk meredakan perdebatan-perdebatan para ahli dengan gagasan-gagasan briliannya.

Diskusi statistik dari Einstein tentang gerakan atom, juga memberikan cara baru dalam melakukan eksperimen untuk menghitung atom, yaitu dengan melihatnya melalui mikroskop biasa. Selanjutnya Wilhelm Ostwald, seorang pemimpin sekolah anti-atom, kemudian memberitahukan Arnold Sommerfeld, bahwa ia mengubah pendapatnya karena penjelasan komplit Einstein tentang “gerakan brown”.

Pada tanggal 17 April 1955, Albert Einstein mengalami pendarahan internal yang disebabkan oleh pecahnya suatu aneurisma aorta perut, yang sebelumnya sudah dilakukan pembedahan oleh Dr Rudolph Nissen pada tahun 1948. Saat dirawat, Einstein sedang membuat suatu konsep pidato yang dipersiapkannya untuk penampilannya di televisi dalam rangka memperingati ulang tahun Negara Israel yang ke-tujuh tahun. Pada saat itu, Einstein menolak untuk di operasi dengan mengatakan kalimat.. "Saya ingin pergi ketika saya ingin. Hambar untuk memperpanjang hidup artifisial. Saya telah melakukan bagian saya, sekarang saatnya untuk pergi, saya akan melakukannya dengan elegan”.

Akhirnya, sang jenius meninggal dunia di Rumah Sakit Princeton, pada pagi hari, di usianya yang ke-76 tahun. Selama jenasah Einstein di autopsi, seorang ahli patologi dari Rumah Sakit Princeton, Thomas Stoltz Harvey, kemudian menghapus otak Einstein untuk pengawetan, namun dilakukannya tanpa izin keluarga Einstein. Dengan harapan bahwa, ilmu saraf masa depan akan pula mampu menemukan apa rahasia yang membuat Einstein begitu cerdas dan pintar. Jenasah sang Einstein selanjutnya dikremasi, sementara abunya tersebar di sebuah lokasi yang sampai saat ini dirahasiakan.

Dalam pidatonya pada peringatan Einstein, seorang fisikawan nuklir bernama Robert Oppenheimer, meringkas kesan pribadinya tentang Einstein, dengan mengatakan .. "Dia hampir seluruhnya tanpa kecanggihan dan sepenuhnya tanpa keduniawian........ Selalu ada bersamanya kemurnian indah, sekaligus kekanak-kanakan dan keras kepala mendalam."

Referensi Buku:

Busthan Abdy. (2018). Pendidikan Berbasis Goblok (Halaman 51-60). Kupang: Desna Life Ministry

No comments